Kamis, 10 Januari 2013

Pengetahuan

Anggrek Dendrobium: Ragam Manfaat dari Pengetahuan Tradisional

Petani Anggrek
Bukan saja indah, dendrobium lebih dikenal sebagai tanaman berkhasiat sejak jaman nenek moyang.
Anggrek dikenal sebagai tumbuhan terbesar di dunia dengan anggotanya yang diperkirakan mencapai puluhan ribu spesies , tersebar hampir diseluruh belahan dunia kecuali daerah ekstrim seperti gurun pasir dan gurun es. Selama ini anggota dari famili Orchidaceae tersebut dikenal sebagai tanaman eksklusif baik di kalangan botanis maupun masyarakat secara umum. Sejak pertama kali anggrek dikenal dan dibawa orang-orang Eropa pada awal abad ke-18 anggrek sudah menjadi primadona dikalangan bangsawan Barat.
Karakteristik tanaman yang unik serta didukung bentuknya yang eksotis dan indah menjadikan tanaman yang umumnya tumbuh secara epifit ini sebagai salah satu komoditi tanaman hias yang menarik. Anggrek sebagai tanaman hias menempati dunia besarnya sendiri dengan penggemarnya yang antusias dan

terpisah dari tanaman hias pada umumnya, baik dari segi perdagangan maupun komunitas anggrek itu sendiri. Kegunaannya juga diketahui sangat beragam mulai dari tanaman hias sampai obat kanker.
Epidendroideae adalah salah satu sub-famili dari famili Orchidaceae yang anggota cukup terkenal dan anggotanya banyak digunakan sebagai tanaman hias, selain itu beberapa jenis khususnya dari sub-tribe Dendrobiinae yaitu genera Dendrobium dengan anggota sekitar 1400 spesies (genera anggrek terbesar kedua di Asia Tenggara) diketahui memiliki banyak kegunaan dalam masyarakat tradisional.
Kelengkapan Ritual
Dilaporkan bahwa di daerah Asia bagian utara beberapa spesies Dendrobium digunakan sebagai kelengkapan ritual keagamaan oleh dukun dan tabib. Di China, ramuan herbal yang menggunakan anggrek telah lama dikenal dan telah ditulis sejak jaman Confucius (awal peradaban Kong Hu Cu). Bhiksu di Srilanka menggunakan bunga Dendrobium maccarthiae untuk memperindah tempat pemujaan dalam memperingati ulang tahun Sang Buddha. Jepang mengenal Dendrobium moniliforme sebagai simbol umur panjang dan digunakan untuk menghias kuil. Dendrobium macraei digunakan oleh Kaum Ayurvedic di India sebagai campuran herbal untuk meramal masa datang. Beberapa suku di sekitar Malesia juga menggunakan spesies Dendrobium lokal di daerah mereka sebagai jimat untuk mempersatukan kembali dua pasangan yang telah berpisah, menyemangati kepala pemburu, meningkatkan kemampuan anjing pemburu, dan mengusir setan jahat serta roh gentayangan. Jus dari batang D. affine digunakan masyarakat Pulau Arnhem untuk bahan perekat dalam pengecatan batu untuk keperluan upacara adat mereka.
Suku Aborigin di Australia menggunakan Umbi Semu dari D. canaliculatum dan D. speciosum sebagai makanan mereka. Suku di Malesia memasak nasi dan daun dari D. salaccense dalam kukusan sebagai penambah rasa, dan juga rebusan D. crumenatum digunakan sebagai tonik di Vietnam.
Sebagai Aksesoris dan Kerajinan Tangan
Genera Dendrobium juga banyak dipergunakan sebagai aksesoris pakaian dan kerajinan tangan khususnya di daerah selatan Asia seperi Indonesia, Kepulauan Pasifik dan Australia. Suku di Pulau Andaman menggunakan tandan tua dari D. crumenatum sebagai dasi untuk pria. Potongan batang yang telah dikeringkan dari D. discolor digunakan untuk mengikat senjata oleh suku primitif di bagian utara Queensland. Orang Philipina menggunakan batang kering dari D. heterocarpum sebagai ikat pinggang untuk mengikat pinggul mereka.
Di Indonesia D. acuminatissimum, D. bifalce, dan D. macrophyllum digunakan sebagai bahan dasar tenunan. Masyarakat Maluku mengenal D. faciferum sebagai bahan baku untuk membuat keranjang, alas kepang, dan anyaman. Sementara di Philipna D. crumenatum digunakan untuk membuat topi dan alas dari serat yg dihasilkannya, dan juga D. polytrichum digunakan untuk bahan tenunan disana.
Masyarakat di daerah Australanesia juga menggunakan serat dan batang beberapa jenis Dendrobium yang telah menguning sebagai gelang, alas tidur, dan juga aksesoris panah dan tongkat komando. Dendrobium utile (syn. Diplocaulobium utile) merupakan tanaman penting bagi suku-suku di Sulawesi dan Kalimantan, seratnya yang telah mengering dan kuning digunakan sebagai pinggiran untuk barang- barang yang berukuran kecil seperti keranjang dan tempat rokok. Kelangkaan tanaman ini di Sulawesi menyebabkan barang – barang yang menggunakan bahan dasar tanaman tersebut dianggap berharga, mahal, dan hanya digunakan oleh kaum bangsawan.
Herbal dan Kejantanan
Anggrek dari subtribe Dendrobiinae telah digunakan secara ekstensif sebagai obat dan suplemen kesehatan di Cina dan sekitarnya. Shih – Hu (Obat yang menggunakan bahan dasar puluhan jenis Dendrobium-khususnya Dendrobium nobile) menyandang predikat obat yang berharga dan telah digunakan semenjak zaman Dinasti Han (200 SM). Beberapa spesies Dendrobium yang bersangkutan telah dibudidayakan untuk dikirim ke daerah dimana banyak terdapat komunitas Etnik Tionghoa yang tersebar di seluruh dunia, sementara Den. moniliforme masih mengandalkan kiriman dari Jepang. Shih – Hu artinya ‘Batu Kehidupan’, mengacu kepada tanaman tersebut yang memiliki sifat tahan suhu dingin dan menguatkan yang sesuai dengan doktrin ketimuran dimana suatu sifat ke’obat’an tanaman tersebut harus sesuai dengan karakteristiknya. Secara tradisional digunakan sebagai tonik untuk memperkuat sistem yin yang berhubungan dengan umur panjang dan kejantanan. Den. nobile mengandung beberapa alkaloid, salah satunya adalah dendrobine yang mengendalikan dan memicu aktifitas farmalogikal.
Di Papua Nugini daun dari Dendrobium sp. digunakan untuk meredakan batuk dan juga beberapa spesies dari seksi Monanthos digunakan untuk menghentikan pendarahan dalam. Orang India menggunakan Den. monticola dan Den. ovatum untuk menghaluskan kulit, sementara Den. moschatum digunakan untuk mengobati sakit telinga. Den. bifarium, Den. planibulbe, dan Den. purpureum digunakan sebagai obat untuk berbagai macam penyakit kulit di Indonesia. Den. crumenatum digunakan sebagai obat untuk sakit telinga dan peradangan pada telinga di Malaysia dan Jawa. Di Queensland dikenal Den. discolor sebagai obat infeksi dan minyak gosok untuk infeksi cacing gelang. Den. hymenanthum digunakan untuk menggunakan penyakit edema / busung air di daerah Malaysia bagian barat. Den. subulatum digunakan di Malaysia untuk meredakan sakit kepala, dan di Tahiti daun Den. crispatum yang telah dimemarkan digunakan untuk menghilangkan sakit kepala dan sakit akut. Den. taurinum di Philipina digunakan untuk mengatasi kerontokan. Beberapa jenis anggrek juga digunakan sebagai obat kejantanan seperti Den. acinaforme di Ambon, Den. chryseum di India, Den. moniliforme di Taiwan dan Korea, dan Den. nobile di Cina.
Sebagai Tanaman Hias
Dewasa ini anggrek telah berkembang pesat di Indonesia baik dikalangan hobiis maupun nurseri komersial. Genera Dendrobium saat ini merupakan jenis anggrek no. 1 dan diperhitungkan baik spesies maupun hibridanya. Silangan dari beberapa seksi terkenal seperti Dendrobium, Phalaenanthe, Latourea, Spatulata telah banyak dihasilkan dan dipasarkan ke seluruh dunia. Salah satu kelompok yang paling diminati saat ini adalah silangan dari seksi Spatulata yang juga dikenal sebagai Dendrobium tipe tanduk – hard cane hybrids.
Bahan Pustaka: Lavarack, Bill; Wayne Harris, Geoff Stocker: “Dendrobium and It’s Relatives”, Timber Press,Portland, Oregon – USA, 2000.
sumber : http://pai.or.id/index.php/artikel/iptek/110-anggrek-dendrobium-ragam-manfaat-dari-pengetahuan-tradisional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar